#Cuma Mau Bilang…

 

Kalo gak semua hal itu bisa diselesaikan dengan sebuah “pemakluman” yang didapat dengan cara pemaksaan yang halus.

 

Sekian.

Advertisements

Apa Sih Yang Kamu Cari?

Pertanyaan itu selalu saya lontarkan pada saat sesi interview dengan calon pegawai di kantor saya. Pertanyaannya mungkin klise, jawaban yang mungkin akan diberikan juga kebanyakan klise. Tapi bagi saya, jawaban dari pertanyaan ini sebenarnya adalah dasar dari alasan kenapa seseorang mencari pekerjaan. Jawaban klise? Karir dan tantangan baru. Jawaban jujur? Uang. Jujur dan klise ya gabungan antara keduanya ya?

Mungkin kalau pada saat sesi interview, jawaban-jawaban seperti karir, tantangan baru, atau memperluas ilmu dan jawaban yang spektakuler lainnya memang jawaban yang harus diberikan untuk memberik kesan professional pada HRD agar setidaknya shortlisted lah dalam data kandidat posisi yang lagi dicari oleh Perusahaan tersebut.

Tapi, terlepas dari hal memenangkan hati Perusahaan, pernahkah Anda mempertanyakan hal ini pada diri sendiri dan dijawab dengan sejujur-jujurnya?

Saya pernah disentak oleh sahabat saya saat saya sibuk mengeluhkan kondisi kantor saya yang membosankan pada awal saya masuk kerja. Sahabat saya itu bertanya, “elu ngeluh mulu Ken, emang apa sih yang lo cari? Uang? Karir? Kenyamanan? Ato apa?” lalu tanpa tedeng aling, dia nyerocos, “kalo lo emang nyari karir, kalo lo emang nyari uang, dan kantor lo gak bisa provide itu, ya lo aja kali yang cari kantor laen yang bisa provide semua kebutuhan elu itu. Jangan ngeluh sana ngeluh sini, tapi elu gak gerakin diri elu untuk move on. And you know what? Melakukan sabotase is waaaayy too cheapy. Sorry ya Ken kalo gw ngomong gini, tapi jujur deh, kalo mengeluhkan soal kantor yang gak bisa provide kebutuhan elu, lalu elu malah berpikir untuk jadi males-malesan ato malah sabotase segala, believe me, it’s waaay too… bodoh kalo boleh gw bilang. Lo kompeten kan untuk diterima di perusahaan mana pun? Then do it! Kirim lamaran ke kantor lain. Tapi kalo elu gak kompeten, kemampuan elu pas-pasan dan cuman kantor elu yang bersedia menampung elu disitu, then face the reality and stop complaining. Do the job perfectly coz maybe, jussst maybe, something will come up and pay the price. Ngerti kan maksud gw?”

Dan saya pun terpukau, cenderung tertohok dan pengin berubah jadi semut lalu ngilang nyumput di sela-sela tembok.

Pertanyaan singkat dan cenderung basa basi semisal “Apa sih yang kamu cari?” itu sebenarnya memang pertanyaan mendasar yang sifatnya justru semacam introspeksi diri. Dari pertanyaan sederhana itu, ada banyak pertanyaan rumit yang akan mengikuti, seperti “apa sih kemampuan spektakuler yang menjual dari diri saya?”, “apa sih yang harus saya lakukan untuk mendapatkan apa yang saya cari?”, “benarkah ini yang saya cari? Kalau sudah mendapatkannya, lalu saya mau apa?”  daaan pertanyaan rentetan lainnya yang ternyata tidak sesederhana pertanyaan di awalnya. Butuh semedi ekstra malah untuk mendapatkan jawaban yang jujur dan sebenar-benarnya dari hati yang paling dalam. Kalo perlu jumpalitan di 1/3 malam terakhir dan komat kamit doa sampai lidah kelu.

Not simple as it is yes?
Why?

Karena pertanyaan sederhana “Apa sih yang kamu cari?” itu adalah dasar dari sebuah komitmen pilihan hidup untuk jangka panjang. Dan sebuah komitmen ini membutuhkan tanggung jawab untuk menjalankannya sepenuh hati, jiwa dan raga. Percuma kan kalo menjalankan komitmen setengah hati? Pahalanya gak sampe, hati cape ngeluh, bibir dower saking keseringan ngomel, pleus keseringan ngeluh dan ngomel malah jadi dinilai negative oleh orang lain. Pasti yang mereka pikirkan adalah, “bok, lo sendiri kan yang milih ntu pilihan, ya elo tanggung jawab jalanin lah. Kok ngeluh mulu?”
Dan percayalah, menjelek-jelekkan pilihan sendiri atau membuat pilihan sendiri tampil buruk, itu sama saja dengan mencoreng muka sendiri. You just dig your own grave baby.

Maka, saya paling suka menanyakan pertanyaan ini kepada calon pegawai di kantor tempat saya bekerja ini. Jujur, saya tak perlu jawaban spektakuler yang tinggi cenderung sulit diyakini kebenarannya. Mainly, saya melontarkan pertanyaan itu untuk sekedar menggugah diri mereka sendiri mengenai apa yang sebenarnya mereka cari dalam hidup dan pekerjaan ini. Jawabannya cukup untuk diri mereka sendiri, karena dari situlah awal dari sebuah langkah yang akan dibuat.

Sebuah karir kah? Sebuah tantangan kah? A simple state of convenience kah?
The answer is yours to keep and prove. So be really really careful in answering the question. Yes?

Berani? Memulai hari ini dengan pertanyaan sederhana, “Apa sih yang kamu cari?”?

Marii….  🙂

_____________________________

#justathought

Rape is NOT for a joke. NEVER.

Disaat masalah perkosaan dan pelecehan seksual pada wanita dan anak-anak tengah mencuat ke permukaan dan segala pihak berusaha mencari hukuman yang tepat untuk dikenai pada pelaku tindakan biadab dan menjijikkan ini, mendadak calon Dewa Agung Hukum di Indonesia malah cuek tanpa peduli perasaan para korban pemerkosaan dan pelecehan seksual, membuat guyonan yang menyebutkan bahwa “yang diperkosa dengan yang memperkosa ini sama-sama menikmati, jadi pikir-pikir terhadap hukuman mati”, yang parahnya diamini oleh seorang ‘wakil rakyat’ dengan menyebutkan bahwa, “tidak perlulah pelaku pemerkosaan itu dihukum mati, kan tidak menghabisi nyawa korban”, bahkan sok menambahkan fakta bahwa 50% perempuan di ibukota tidak perawan (korelasinya dimana ya Pak Wakil Rakyat yang terhormat?)

Mencelos lah hati saya saat membaca berita ini.

Saya perempuan, dan mungkin, akan memiliki anak yang rawan keselamatannya akan tindakan biadab yang satu ini. Namun ternyata, nasib saya sebagai perempuan dan nasib anak-anak saya nanti di negara ini, hanya dianggap sebuah guyonan belaka dimata para wakil rakyat dan mereka yang katanya dewa agung hukum pelindung warga di negara ini.

Sebuah kenikmatan kah?
Diperkosa. Dipaksa dengan kekerasan, melayani nafsu birahi laki-laki yang mungkin dikenal, tapi lebih mungkin lagi tidak dikenal, apalagi jika dilakukan secara bergiliran.
Sakit yang dirasakan, bukan hanya sekedar fisik, tapi kehormatan diri pun dikoyak, tercabik-cabik dengan paksa. Sakit, being ripped off, terhina, takut dan jijik pada diri sendiri. Semua terasa dalam satu waktu. Sebuah kenikmatan kah itu?
Derita psikisnya jauh lebih lama untuk disembuhkan, bahkan mungkin membutuhkan waktu seumur hidup. Trauma dan ketakutan menghantui selama sisa hidup.
Sebuah kenikmatan kah itu?

Mengerikan.
Sangat
mengerikan.

Perempuan di mata hukum, ternyata memang masih menjadi warga kelas dua. Warga yang lemah perlindungan. Bahkan, keputusan hukuman kepada pemerkosa pun masih dalam tahap “pikir-pikir dulu”. Tidak ada yang berani menjatuhkan hukuman mati kepada pemerkosa dengan anggapan, toh korban perkosaan itu tidak mati, tidak kehilangan nyawa.
Mungkin tidak kehilangan nyawa, tapi kehilangan separuh jiwanya selama sisa hidupnya, bukankah itu juga termasuk dalam pembunuhan? Pembunuhan martabat, harkat dan kehormatan. Apakah hidup tanpa jiwa yang tentram itu bisa dibilang hidup?

Wahai para Wakil Rakyat dan dewa agung hukum yang duduk di singgasana mewahmu, jelaskan pada saya arti hidup, tolong.
Karena bagi saya, hidup adalah sepenuh jiwa dan raga, tentram, aman dan nyaman, bebas dari rasa takut, dan memperoleh dukungan baik materiil maupun sprituiil dalam menggali dan mengembangkan kemampuan diri. Hidup penuh cinta, kasih sayang, dan terlindungi.

Wahai para Wakil Rakyat dan Dewa Agung Hukum Indonesia, berkenankah Anda untuk mempertimbangkan perlindungan hukum yang memadai bagi kami para Perempuan dan anak-anak yang hidup di tanah air ini, sehingga kami bebas untuk benar-benar hidup?

Sudikah kiranya para Wakil Rakyat dan Dewa Agung Hukum Indonesia menempatkan ibu, saudara perempuan, istri, maupun anak-anak perempuannya sebagai acuan dalam menetapkan kebijakan hukum yang melindungi perempuan dan anak-anak di Indonesia? Atau apakah kalian hanya menganggap kami ‘hanya’ warga kelas dua dan objek pelampiasan hasrat seksual belaka? Begitukah yang kalian lihat dari ibu, istri, saudara perempuan maupun anak-anak perempuan Anda? Itu kah yang kalian ingin orang lain lihat dari ibu, istri, saudara perempuan maupun anak-anak perempuan Anda?

Tidak, ini bukan rintihan tak berdaya dari kami para Perempuan, ini hanya sebuah saran kecil bagi para Wakil Rakyat dan Dewa Agung Hukum Indonesia dalam menetapkan hukum dan undang-undang yang melindungi seluruh warganya, tanpa terkecuali, sehingga mereka dapat menjadi Wakil Rakyat dan Dewa Agung Hukum yang lebih bijak dan disegani di negara ini.

Kami hanya ingin hidup tentram, nyaman dan merasa aman. Kami sudah cukup muak dengan rasa takut yang menghantui setiap kali kami bergerak. Kami hanya ingin, anak-anak kami bebas menikmati masa kanak-kanaknya, bermain tanpa rasa takut, tertawa girang renyah gembira, menari bersama hembusan angin.

Kami hanya ingin mengecap kenikmatan tanpa kekerasan dan paksaan yang mengancam jiwa kami.

Tak kah kalian menginginkan itu juga? Bagi ibu, istri, saudara perempuan, maupun anak-anak perempuan kalian?

Mohon kiranya para Wakil Rakyat dan Dewa Agung Hukum Indonesia dapat lebih bijak dalam menentukan hukum di negara ini, mungkin bisa dimulai dengan lebih bijak dalam memilih guyonan.

____________________________

#justathought

ps:

dan saat saya selesai menuliskan nyanyian hati saya ini, sang calon dewa agung hukum Indonesia tersebut, menangis-nangis di hadapan pers, menyesali guyonan bodohnya, meminta maaf pada seluruh pihak terkait, terutama korban perkosaan dan pelecehan seksual.

Rape is NOT for a joke. NEVER, sir.

Again, think before you sink. Period.

.none.

 

Not meant to preach nor teach since am not a preacher nor a teacher, but lemme pour a drip of my thoughts here.

It goes like this: “take it or leave it, but never ever EVER bitching about it.

 

There.

Got it?

Well, let’s just act as if you got the point, okay?

 

For you smart people out there, let’s not just put the “SMART” on the phone you use daily. It’s way much super wisely to put it in your head and your attitude instead.

🙂

__________________

#justathought

Dibalik Cerita Sebuah Lagu

 

Dulu, pertama kali liat video klip ini, komentarnya: lagunya enak sih, sayangnya yang nyanyi mukanya tua-tua amat ya? Angkatan lama ini kayaknya. Tapi asik sih. Musiknya enak buat travelling. Ini video bisa keinget karna sontrek si Niko ini sih.

Hanya satu kali itu saja menonton videonya, itu pun tidak disengaja nemu.
Lama berselang,  tahun demi tahun, baik lagu maupun videonya tak pernah lagi menerpa telinga maupun mata.
Walau selalu terngiang akan scenery video musiknya.

Sampai suatu ketika lagu itu menjadi bagian dari cerita hidup.
Mungkin juga… cerita cinta?
^_____^

#sekedarbercerita

_______________________________

3 hari untuk selamanya by Floatproject
taken the clip from blindpigfilm (youtube)

 

“Sssttttt”

Lucu juga saat membaca blog sebuah teman yang menuliskan secuplik mengenai kehebohan yang sempat menggegerkan sebuah kantor di lantai 7 sebuah gedung di daerah perkantoran Sudirman, di awal tahun 2011 ini. Kegegeran yang disebabkan oleh sepasang Partners in Crime (in Love and Life also :P), yang salah satunya adalah gw. Siapakah satunya lagi? Tak lain dan tak bukan adalah seorang laki-laki yang telah resmi menjadi Suami gw maret kemarin. Yap, kamilah Sang Pelaku Kegegeran itu.

Apanya yang menggegerkan?
Yang menggegerkan pada waktu itu adalah kenyataan bahwa kami berdua telah menjalin tali kasih selama 1 tahun 3 bulan, tanpa diketahui oleh pihak kantor tempat kami berdua bekerja. Yap! Kami backstreet, bukan dari keluarga, tapi dari kantor. Dan yang lebih menggegerkannya lagi, berita tentang hubungan cinta kami ini dikuak oleh kami sendiri, satu bulan…yap satu bulan sebelum kami menyelenggarakan upacara pernikahan kami. Well, setidaknya, bukan saat menyebarkan undangan sih ^___^V

Lucu bukan? Dan lebih lucu lagi saat mendapati puluhan wajah shock dan teriakan histeris sebagai respon saat mendengar kabar itu. Terlebih tentunya wajah pucat Sang Owner, saat Suami menghadap dirinya dan menceritakan kondisi kami.

[R (suami): “So, I’m asking your permission to get married this March”| K (owner): “Sure. It won’t be any problem with your situation, and I’m glad to hear that, I guess you can ask Y (manager kantor suami) about the regulation which I don’t think would be any difficult” | R: “yea, but I’m about to marry one of your staff here” | K: (shock utk sementara waktu) “ow! Really! Wow! How.. ow.. I mean.. yea?! who?” | R: (nyengir) “Putri” | K: (speechless) ]

Kalo inget saat-saat menegangkan itu, rasanya lucu, sekaligus puas, sekaligus berasa sudah menorehkan sebuah sejarah baru yang bakal dikenang hingga ribuan tahun mendatang. Setidaknya, oleh klan kami, hehe.

Bukan mau cari sensasi sih. Bukan juga mau nyaingin para selebritis yang suka sok tertutup soal memacari dan dipacari siapa. Hanya saja, kebetulan sekali, demi profesionalisme, kami memutuskan untuk menutupi hubungan ini dari sergapan Pers Kantor a.k.a. Tukang Gosip Kantor yang artinya…. seluruh penghuni kantor (karena semua tukang gossip, red.) hihihi.

Sebenarnya sih, kami berdua berada di perusahaan berbeda (hingga bulan ini, sebelum Suami secara resmi ditransfer ke perusahaan tempat gw bekerja), hanya saja ownernya sama dan kebetulan sekali instead of menempatkan dirinya di Bandung, tempat dimana kantornya berpijak, divisi online store tempat Suami ditempatkan itu ditanam di sebuah pojokan di kantor gw. Jadi, secara manajemen, memang seharusnya berbeda memang, hanya saja toh lingkup kerja kami sama, itu itu juga. Maka dari itu, kami pun sepakat, dari awal pacaran untuk tidak mengumumkan apapun mengenai hubungan ini, demi profesionalisme kerja. Lucunya, status misterius itu sudah diusung kami sejak masa “Pe-De-Ka-Te” dulu, tanpa ada statement khusus diantara kami, hihihi. Seakan memang ada persetujuan batin diantara kami berdua untuk menjaga baik-baik hubungan ini.

Well, anyway, menyimpan rahasia hubungan ini hingga begitu lama, memang tidak mudah, tapi karena niatannya mungkin baik, ya… kami pun sanggup saja, toh kami bukan bermaksud menyembunyikannya karena maksiat, tapi semata-mata agar tidak mengganggu suasana bekerja di kantor.

Benar kata seorang teman baik yang menanggapi rahasia hubungan kami ini dengan bijak, “gak salah kok keputusan mereka itu, kan gak ada yang tau apa yang akan terjadi di depan. Walau memang sudah berkomitment untuk ke jenjang berikutnya, mana tau kalau ada masalah di tengah jalan dan mereka harus pisah. Olok-olokan yang akan mereka terima nanti, bisa saja menyakiti salah satu dari mereka dan menjadikan mereka sulit bergerak di kantor.” (kurang lebih seperti itu lah 😀 )

Well, anyway, sekarang, hubungan kami sudah bukan misteri lagi, bukan sebuah rahasia yang harus ditanggung oleh kami berdua. Gak perlu lagi merasa deg-deg-an saat kencan ke mall ato tempat nongkrong lainnya, takut ketahuan oleh orang kantor, huehehehe…..

1 tahun 8 bulan hubungan ini sudah berlangsung, dan hampir memasuki bulan ketiganya dalam kehidupan pernikahan… *cengir* dan sudah begitu banyak cerita untuk diwariskan, walau belum menemukan waktu tepat untuk membukukannya *ckikik*

doakan kami langgeng sampai di akhirat ya pals! ^_______^V

the wedding, March 13th, 2011

#sekedarbercerita

Cheers.

______________________

Vanilla Twilight

The stars lean down to kiss you
And I lie awake and miss you
Pour me a heavy dose of atmosphere

‘Cause I’ll doze off safe and soundly
But I’ll miss your arms around me
I’d send a postcard to you, dear
‘Cause I wish you were here

I’ll watch the night turn light-blue
But it’s not the same without you
Because it takes two to whisper quietly

The silence isn’t so bad
‘Til I look at my hands and feel sad
‘Cause the spaces between my fingers
Are right where yours fit perfectly

I’ll find repose in new ways
Though I haven’t slept in two days
‘Cause cold nostalgia
Chills me to the bone

But drenched in vanilla twilight
I’ll sit on the front porch all night
Waist-deep in thought because
When I think of you I don’t feel so alone

I don’t feel so alone, I don’t feel so alone

As many times as I blink
I’ll think of you tonight
I’ll think of you tonight

When violet eyes get brighter
And heavy wings grow lighter
I’ll taste the sky and feel alive again

And I’ll forget the world that I knew
But I swear I won’t forget you
Oh, if my voice could reach
Back through the past
I’d whisper in your ear
Oh darling, I wish you were here

@owlcity

___________________________

I did cry, over and over,  repeating this song in my head for the past 3 days. It felt so damn sad and desperate knowing that you’re about an inch away to lose someone you dearly love for some stupidity you’d done. Things you didn’t even mean to do, but just happened unconciously. Pretty miserable to hurt someone that too precious to have lived in your heart. And it surely hurts when you can only stare at the spaces between your fingers, and find nothing but emptiness.

Enough. I quit being a selfish bitch. Resignation letter is officially written and approved.
So long Bitch!! Don’t even want to smell your skin.