“Rasanya seperti apa?”
Aku memiringkan kepala sejenak, berusaha memetakan rasa yang muncul. Kujilat sedikit bibir atasku dengan ujung lidah untuk semakin menegaskan rasa yang tersisa.
“Manis.” ujarku perlahan, hampir berbisik.
“Manis?” Ia mengulangi kata itu.
Mendadak rasa hangat menjalari wajahku, membuatnya memburatkan warna merah. Aku mengangguk pelan, sedikit menunduk, menjauh dari selidik sepasang mata teduh dihadapanku.
“Lembut,” suara itu terdengar hampir lirih, dan aku baru menyadari kalau suara itu adalah suaraku.
“Lembut juga?” Ia kembali mengulang, dengan nada setengah tertawa. “Enak gak?”
Kali ini, aku memberanikan diri menatap kedua mata itu, “iyaaaa!!” rengekku merasa kesal dipermainkan.
Ia tertawa. Begitu renyah.
“Jadi, mau lagi?” Ia menaikturunkan kedua alis tebalnya, dengan jenaka.
Kedua bibirku bertambah panjang 2 senti mendengarnya.
Ia masih tertawa dan tanpa menunggu jawabanku, menyeretku pelan menuju gerai es krim tersohor yang konon kabarnya hanya menggunakan bahan-bahan impor.
“Nah, sekarang mau yang rasa apa?” dan senyum itu kembali mengembang, begitu lebar.
^___________^
_______________________________
Nyaaamm.. akhirnya hari itu makan es krim rasa apa aja nih? :q
By: Indah on July 7, 2010
at 1:30 pm